Hukum Aqiqah dan Dalil Aqiqah Untuk Setiap Anak Yang Dilahirkan

Hukum Aqiqah dan Dalil Aqiqah Untuk Setiap Anak Yang Dilahirkan

Dalam Islam setiap anak yang dilahirkan, sunnah hukumnya menjalankan aqiqah untuk anak tersebut. Mengapa demikian?, sebab sudah ada dasar hukumnya baik dari Al-Qur’an maupun dalam Hadist Nabi. Hukum aqiqah lebih gamblang menurut jumhur ulama adalah sunnah muakkad yakni sunah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan. Sedangkan untuk tata cara dalam aqiqah telah dijelaskan oleh jumhur ulama bahkan dalam hadist Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wassalam.

Hukum Aqiqah Dalam Al-Qur’an Dan Hadist

Aqiqah berasal dari bahasa Arab dan mempunyai arti mengaqiqahkan anak maupun menyembelih kambing aqiqah”. Dalam bahasa artinya, memisahkan maupun memotong. Pengertian para jumhur ulama, aqiqah dalam etimologis yaitu rambut di kepala bayi yang tumbuh dari lahir. Menurut Istilah ada beberapa penjelasan yaitu:

  1. Sayyid Sabiq mengatakan bahwa aqiqah yaitu sembelihan yang disembelih bagi anak setelah lahir.
  2. Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Husaini mengatakan bahwa Aqiqah yaitu nama atas sesuatu yang disembelih di hari ketujuh di mana hari itu hari mencukur rambut kepala dengan menyebut yang berhubungan dengan sebuah nama tersebut.
  3. Abdullah Nashih Ulwan mengatakan bahwa Aqiqah yaitu menyembelih kambing kepada anak di hari ketujuh setelah lahir.

Lebih jelasnya dalam pengertian Aqiqah, Nabi Muhammad Saw menjelaskan dalam hadisnya, yaitu :

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَ يُحْلَقُ وَ يُسَمَّى

“Dari Samurah bin Jundab Nabi berkata : Rasullah bersabda: Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan (kambing) untuknya pada hari ke tujuh, dicukur, dan diberi nama. [Shahih, Hadist Riwayat Abu Dawud 2838, Tirmidzi 1552, Nasa’I 7/166, Ibnu Majah 3165, Ahmad 5/7-8, 17-18,22, Ad Damiri 2/81, dan lainnya).

Hukum aqiqah bagi anak yang dilahirkan telah diatur oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an sebagai bentuk bahwa benar-benar aqiqah adalah ibadah baik yang perlu dilaksanakan oleh umat muslim, yaitu:

Menurut Dauz Adz-Dzahiri menyatakan bahwa menjalankan hukum aqiqah yakni wajib. Tetapi, jumhur ulama mengatakan hukum menjalankan aqiqah yaitu Sunnah. Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa hukum aqiqah yakni ibadah maka tidak sunnah juga tidak wajib. Menurut Abu Bakar Jabir Al-Jazairi pada bukunya Minhajul Muslim menyatakan bahwa hukum aqiqah yaitu sunnah muakad dengan catatan orangtua batyi tersebut mampu dalam melaksanakan aqiqah.

Perbedaan perndapat disebabkan interpretasi yang beda dalam hadist Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wassalam dari riwayat Samurah di atas. Imam Ahmad mengatakan bahwa kata “anak-anak itu tergadai dengan aqiqahnya” maksud dalam hadist di atas adalah pertumbuhan pada anak tersebut, mulai dari badan hingga kecerdasan pemikirannya maupun pembelaan dari ibu bapaknya dihari kiamat semuanya akan tertahan, kalau ibu bapaknya atau orangtuanya tidak menjalankan aqiqah bagi bayi yang mereka lahirkan.

Pendapat ini juga dikuatkan oleh Al-Khattabi serta didukung dengan penuh Ibn Qoyyim dengan menegaskan aqiqah tersebut mempunyai fungsi dalam melepaskan anak bersangkutan daripada godaan setan terkutuk.

Dalam al-Qur’an sendiri hukum aqiqah tidak disebutkan secara gamblang, dalam Al-Qur’an menjelaskan bagaimana manfaat dari menjalankan aqiqah bagi seorang muslim terutamanya bisa berbagi dengan sesama muslim bahkan bisa mempererat silaturahmi bagi sesama muslim. Berikut Dalil Al-Qur’an yang secara eksplisit menjelaskan tentang hukum aqiqah Al-isra’ ayat 26:

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا

Artinya : “Dan hendaknya berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan juga orang yang sedang dalam perjalanan dan jangalah kamu menghambur-hamburkan hartamu dengan boros.

Dari Surah Al-Isra’ ayat 26 di atas menjelaskan bahwa kita dilarang boros dalam pemakaian harta, lebih baik digunakan dalam hal kebaikan misalkan dengan membantu keluarga dekat, orang miskin maupun orang yang sedang dalam perjalanan. Mereka membutuhkan bantuan kita, salah satunya dengan menjalankan aqiqah dan memberikan daging aqiqah kepada mereka. Hal semacam ini bisa membantu mereka yang membutuhkan.

Setelah mengetahui hukum aqiqah, dalam Aqiqah hewan yang bisa digunakan ada aturannya, jadi tidak sembarang hewan bisa digunakan untuk aqiqah, yakni kambing dan domba. Umumnya masyarakat islam di Indonesia, menyembelih hewan aqiqah bagi anak laki-laki dua ekor kambing/domba dan untuk anak perempuan satu ekor kambing/domba.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *